Kamis, 19 Agustus 2010

Kisah Hidupku di Sorowako

       Menulis bukanlah perkara sulit, namun ketika harus menulis dengan hati, ceritanya menjadi lain.  Butuh energi aktivasi yang besar untuk mulai menulis, itupun setelah sekian lama menanti datangnya ‘sang ide’.  ‘Ia’ datang tiba-tiba di suatu sore yang sendu tatkala diriku bangun dari tidur yang lumayan nyenyak.  Sambil agak terhuyung menuju kamar mandi di sebelah kamar tidurku, kepalaku dipenuhi ide-ide untuk bahan menulis yang sebelumnya sulit sekali tergambar jelas, yang mana yang akan kutuangkan.  Akhirnya lamunan sore itu membawaku ke masa lalu yang ternyata bisa mengusik jiwa yang akhirnya menggerakkan jari-jari ini di atas keyboard laptop mungilku…
       Hari itu, 2 Oktober 2006, hari kedua puasa Romadhon, untuk kesekian kalinya aku dan suamiku melakukan perjalanan lintas pulau.  Setelah 2,5 tahun menemani  suami di Kalimantan sekarang aku ‘harus’ mendampinginya di Sulawesi. .Kurasa kata-katanya bukan ‘harus’ tapi ‘ingin selalu’. Masa 1,5 bulan di awal pernikahan ketika kami menjalani kehidupan berjauhan, cukup untuk menyadari bahwa ternyata kami sangat menderita jika harus terpisah.
       Subuh itu kami sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta.  Setelah mengurusi administrasi keberangkatan dan menunggu beberapa saat, barulah kami masuk ke dalam pesawat.  Penerbangan saat itu biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa, selain bersyukur karena perjalanan lancer dan selamat.  Kami tiba di Bandara Hasanuddin, Makassar setelah terbang selama sekitar 2 jam.  Sekitar 3 jam berikutnya kami kembali ke dalam pesawat yang lain, kali ini menggunakan pesawat cassa, pesawat terbang kecil yang hanya memuat 40 penumpang, pergi meninggalkan bandara di kota Angin Mamiri itu untuk menuju kota tujuan yaitu Sorowako.
       Seperti biasa, di dalam pesawat, aku memilih tempat duduk dekat jendela, maksudku agar aku bisa melihat pemandangan di sekitar dan di bawah pesawat.  Suamiku selalu tak ada masalah dengan posisi tempat duduk, toh dia lebih memilih tidur untuk menghabiskan waktunya di dalam pesawat.  Sesekali kami berpandangan dan saling tersenyum, tanpa bertanya apa yang difikirkan.  Saat itu malas sekali untuk berbincang, apalagi kami sedang berpuasa, tak nyaman rasanya, biasanya aku yang paling cerewet, memulai dan mengakhiri pembicaraan, tapi kala itu paling sesekali saja terjadi percakapan.
       Perjalanan yang menurut jadwal akan ditempuh selama sekitar 1 jam tak terasa akan berakhir.  Aku masih sempat melihat pemandangan dari atas pesawat sebelum ia landing.  Tampak dari atas seperti gundukan tanaman berwarna hijau, namun warnanya tidak cerah malah seperti yang gersang, dan tanahnya pun tampak berwarna kuning kemerahan seperti tidak subur.  Waktu itu aku mengira aku akan tinggal di tempat gersang yang rusak oleh karena adanya pertambangan. Tak lama kemudian pikiran itu sirna, karena semakin dekat dengan landasan tampak kehijauan yang segar.  Ternyata seperti halnya melihat kehidupan, pemandangan di bawah pesawat pun akan lain penampakan bila dilihat dari ketinggian yang berbeda.  
       Siang itu kami merasa senang, akhirnya kami sampai di Sorowako, sebuah kota terpencil yang baru-baru saja dicantumkan dalam peta Indonesia.  Dari Bandara Sorowako kami dijemput oleh mobil perusahaan INCO, perusahaan tempat suamiku akan bekerja mulai esok harinya, untuk kemudian diantar ke tempat peristirahatan kami, yaitu Hotel Lusiana.  Hotel itu tak jauh dari bandara, hanya beberapa ratus meter saja. Jadi saat itu, aku tak banyak tahu seperti apa kota Sorowako, selain jalan, tempat-tempat dan bangunan-bangunan yang terlewati dari bandara menuju hotel.
       Tiba di hotel kami ditempatkan di sebuah kamar di lantai 2.  Kami agak kecewa karena kamar yang tersedia adalah kamar untuk 1 orang, sementara kami berharap kamar untuk 2 orang.  Menurut petugas hotel yang mengurusi check ini, kamar berukuran besar sudah penuh.  Jadilah kami menikmati kamar sempit selama lebih dari 1 bulan.  Setelah itu, kami dipindahkan ke kamar berukuran besar di lantai 1, setelah penghuni sebelumnya check out dari hotel tersebut.
        Kami tinggal di hotel itu sekitar 8 bulan.  Setiap pagi kami sarapan di hotel dan ketika Romadhon, sahur pun di kantin hotel.  Kalau siang aku mencari makanan sendiri, kadang di hotel, seringnya di luar hotel.  Malam pun demikian, hanya saja aku tidak sendiri tetapi bersama suamiku.  Kegiatanku bila tak ada suami, sebagian besar hanyalah di dalam kamar hotel menonton TV dan sesekali membaca buku maupun koran yang disediakan di ruang resepsionis hotel.  Dari yang kutahu melalui percakapan dengan istri-istri karyawan lain yang tinggal di hotel itu, sepertinya tak ada istri yang tahan hidup di hotel selama aku, 2 bulan saja katanya sudah tidak betah.  Untunglah aku kadang-kadang keluar hotel untuk suatu urusan, sehingga mungkin karena itulah aku tidak pernah merasa jenuh tinggal 8 bulan di kamar berukuran 3 x 4 meski tidak keluar bekerja ataupun beraktivitas setiap hari.
        Di bulan kedua di Soroawako aku mulai menjual kalender untuk membantu sebuah Yayasan Pendidikan di kota kelahiranku, Bandung.  Memang sejak kuliah aku selalu memberikan waktu dan tenagaku untuk membantu temanku yang terlibat mengurusi yayasan tersebut.  Meski aku tak kenal siapapun waktu itu, aku nekad menawarkan kalender dengan mendatangi satu persatu apartemen-apartemen, rumah-rumah serta mendatangi kerumunan orang.  Aku bersyukur dari situlah aku berkenalan dengan orang-orang yang rata-rata adalah istri pegawai yang bekerja di INCO.  Malah aku berkenalan dengan seorang guru ngaji yang sedang mengisi pengajian kelompok waktu itu sehingga akhirnya akupun mengikuti pengajiannya. 
        Ada satu hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya meski dari dulu aku suka menawarkan kalender.  Suatu ketika ada seorang ibu yang membeli kalenderku kemudian ia memberiku saran agar menjual buku-buku anak-anak maupun yang berkaitan dengan pendidikan anak.  Setelah itu, jadilah aku seorang salesman buku-buku, vcd dan mainan-mainan yang mendukung tumbuh kembang anak.  Sebelumnya aku tak pernah mau untuk berjualan demi mencari keuntungan pribadi.  Meski hanya setahun lebih aku berjualan seperti itu, tapi dari situlah aku mempunyai cukup banyak kenalan, jauh lebih banyak ketimbang ketika tinggal di Kalimantan.
         Akhirnya aku dan suamiku harus meninggalkan Hotel Lusiana, hotel yang menurut kami paling bagus di antara hotel-hotel di Sorowako yang disediakan INCO untuk karyawan-karyawannya. Yah, itu sih menurut kami, yang hanya bisa melihat hotel lain dari luarnya saja.  Kami harus pindah ke tempat tinggal yang dibuat sendiri oleh INCO.  Aku tak bisa menyebutnya rumah atau apartemen karena memang tempat tinggal itu hanyalah berupa container yang diubah menjadi 2 kamar, dan di antara kamar itulah letak kamar mandinya.  Satu orang karyawan menempati 1 kamar sehingga sebelah kamar kami diisi orang lain.  Ukuran kamarnya kecil apalagi jika ditempati 2 orang, setengah ukuran kamar hotel kami pun tidak sampai.  Kasurnya juga didesain untuk 1 orang.  Hari pertama aku tak bisa tidur nyenyak, tampaknya perubahan ukuran kasur kala itu membuatku sangat menderita di malam hari.  Alhamdulillah, hanya satu hari saja karena keesokan hari dan seterusnya aku dan suami bisa tidur dengan nyenyak meski bersempit-sempit dan hanya 1 bantal berdua.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar